PASAR JAGO Sidoarjo: Dorong Digitalisasi Retribusi Pasar, Dongkrak Transparansi & PAD Hingga 23,7%
SIDOARJO, kasatmata.id | Langkah Pemkab Sidoarjo memodernisasi tata kelola retribusi pasar melalui inisiatif PASAR JAGO (Pasar Sidoarjo Jaringan Go-Digital) mulai menunjukkan hasil yang nyata. Berbasis aplikasi MyRetribusi, transformasi digital ini tidak hanya mempermudah pedagang dalam membayar kewajibannya, tetapi juga mendongkrak rata-rata penerimaan daerah sekaligus memangkas kebocoran melalui sistem yang jauh lebih transparan dan akuntabel.
Program ini secara resmi diluncurkan dalam High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kabupaten Sidoarjo yang digelar di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (13/8/2026). Upaya ini merupakan kelanjutan dari proses panjang yang telah dirintis sejak 2017, dan kini mendapat dukungan kuat dari Bank Indonesia serta Bank Jatim melalui penyediaan infrastruktur pembayaran digital berbasis QRIS.
Baca juga:
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Sidoarjo, Yudhi Iriyanto, memaparkan bahwa penerapan MyRetribusi mulai diintensifkan sejak Mei 2026. Dari total 19 pasar daerah yang menjadi sasaran, saat ini 12 pasar telah mengimplementasikan pembayaran retribusi secara digital. Jumlah transaksi pun melonjak tajam — dari awalnya 2.109 transaksi, kini tercatat lebih dari 26.093 transaksi hingga pertengahan Agustus 2026.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya para pedagang pasar, semakin beradaptasi dan menerima kemudahan pembayaran digital,” ujar Yudhi.
Dampak positif terhadap penerimaan daerah juga terlihat jelas. Sebelum digitalisasi berjalan — periode Januari hingga April 2026 — rata-rata mutasi rekening penerimaan retribusi pasar tercatat sekitar Rp1,15 miliar per bulan. Setelah MyRetribusi diberlakukan secara aktif pada Mei–Juli, rata-rata penerimaan naik menjadi sekitar Rp1,42 miliar per bulan atau meningkat 23,7 persen. Porsi penerimaan digital pun melonjak dari hanya 2,7 persen pada Mei menjadi 33,4 persen saat ini.
“Digitalisasi menciptakan sistem pembayaran yang tercatat rapi, transparan, dan mudah dipantau secara real time. Setiap rupiah retribusi yang dibayarkan pedagang dapat langsung masuk ke sistem dan berkontribusi optimal bagi PAD Sidoarjo,” jelas Yudhi.

Ke depan, digitalisasi retribusi pasar ditargetkan berjalan sepenuhnya secara penuh pada 2027. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat menekan biaya operasional pencetakan karcis retribusi manual yang selama ini menyerap anggaran sekitar Rp500 juta per tahun. Yudhi juga menekankan bahwa teknologi hanyalah alat — keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada keterlibatan para juru pungut retribusi di lapangan sebagai ujung tombak pelaksana.
“Kami sangat mengapresiasi para juru pungut yang terbuka beradaptasi dan menjadi bagian penting dari perubahan ini. Sistem yang canggih tidak akan berguna tanpa manusia yang menggunakannya untuk melayani masyarakat dengan baik,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati, mengingatkan bahwa transformasi digital bukanlah proses instan. Pemkab Sidoarjo telah memulainya sejak 2017 dengan membangun kesiapan pengelola pasar, pedagang, hingga masyarakat secara bertahap selama hampir satu dekade. Kini, hasilnya mulai terlihat nyata.
“Digitalisasi ini bukan sekadar soal cara membayar retribusi, melainkan tentang bagaimana pemerintah daerah menghadirkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pedagang tidak lagi bergantung pada uang tunai, dan pemerintah memiliki basis data penerimaan yang jauh lebih andal untuk perencanaan pembangunan,” urai Fenny.
Baca juga:
Polresta Sidoarjo Bekali Siswa SMK YPM 8 Literasi Digital: Dorong Pemanfaatan Al yang Bijak
Ia berharap ke depan transformasi digital tidak berhenti di sektor retribusi pasar saja, melainkan merambah ke seluruh lini pelayanan pemerintah daerah. Dengan begitu, masyarakat akan semakin terbiasa dengan transaksi digital dan pelayanan publik Sidoarjo menjadi semakin praktis, transparan, dan akuntabel.
Perwakilan Bank Indonesia yang turut mendukung program ini juga menyampaikan bahwa penguatan ekosistem pembayaran digital daerah merupakan bagian strategis dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui fasilitasi QRIS Experience dan pendampingan infrastruktur pembayaran digital bagi seluruh pasar daerah di Kabupaten Sidoarjo. @dieft












