Waket DPRD Sidoarjo Ajak Pertahankan Budaya Leluhur Melalui Grebeg Suro Nguri-Uri Budaya

Foto: Warih Andono, bersama dengan R.M. H. Muhammad Guntur Santoso (Ketua Pemangku Adat Kadipaten Sidokare) serta rombongan tokoh budaya dan adat Sidoarjo, melakukan ziarah awal ke Pesarean Panembahan Gusti Sirno Bekti – yang lebih dikenal dengan nama RT. P. Tjokronegoro I – Bupati Sidoarjo yang pertama, sebelum kegiatan utama dimulai pada hari Jumat (19/06/2026) sore.

Waket DPRD Sidoarjo Ajak Pertahankan Budaya Leluhur Melalui Grebeg Suro Nguri-Uri Budaya

SIDOARJO, kasatmata.id | Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriyah yang bertepatan dengan bulan Suro dalam penanggalan Jawa, komunitas budayawan dan tokoh spiritual Kabupaten Sidoarjo menggelar kegiatan tradisional bertajuk Grebek Suro Nguri-uri Budaya. Acara yang menjadi tonggak penting dalam pelestarian dan pertahankan budaya lokal ini tidak hanya menghadirkan ragam kesenian khas Jawa, namun juga menjadi ajang untuk memperkuat hubungan silaturahmi serta menghormati jasa para pendiri daerah.

Sebagai bagian utama dari rangkaian acara, anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Warih Andono, bersama dengan R.M. H. Muhammad Guntur Santoso (Ketua Pemangku Adat Kadipaten Sidokare) serta rombongan tokoh budaya dan adat Sidoarjo, melakukan ziarah awal ke Pesarean Panembahan Gusti Sirno Bekti – yang lebih dikenal dengan nama RT. P. Tjokronegoro I – Bupati Sidoarjo yang pertama, sebelum kegiatan utama dimulai pada hari Jumat (19/06/2026) sore.

“Kita tidak boleh seperti kacang ninggalno lanjarane (kacang yang melupakan kulitnya). Beliau adalah sosok yang membangun dasar Kabupaten Sidoarjo saat ini, dan meskipun sudah berada di alam kubur, tugas kita yang masih hidup adalah untuk selalu mendoakan serta menjaga warisan yang telah beliau tinggalkan,” ucap Warih Andono dalam sambutannya setelah ziarah.

Baca juga:

9 Kandidat Calon Direksi Perumda Delta Tirta Tahap UKK, Tantangan Berat Pimpinan Terpilih

Setelah prosesi ziarah, rombongan melaksanakan kirab yang diarakkan dengan irama gamelan klasik Jawa dan pertunjukan jaranan yang penuh semangat, diikuti pula oleh parade Caplokan yang menarik perhatian warga yang menyaksikan. Kirab ini berjalan menuju lokasi makam Bupati pertama sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan sejarah perjuangan daerah.

Dalam kesempatan yang sama, R.M. H. Muhammad Guntur Santoso menjelaskan bahwa kegiatan nguri-uri budaya ini diinisiasi dengan dukungan penuh dari Warih Andono dan seluruh tokoh adat Sidoarjo. “Inti dari kegiatan ini adalah dengan niat tulus untuk mengingatkan kembali akan budaya leluhur tanah Jawa yang adi luhung. Kita khawatir generasi muda kelak akan melupakan akar budaya dan sejarah leluhur mereka, sehingga melalui acara ini kita berusaha membangkitkan semangat kebersamaan dan cinta terhadap budaya sendiri,” jelasnya.

Guntur juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat membawa kedamaian dan ketertiban bagi daerah. “Kita juga memanjatkan doa agar Kabupaten Sidoarjo dan bangsa Indonesia terbebas dari segala bentuk marabahaya, baik yang tampak maupun yang tidak terlihat. Malam ini, di Pendopo Dinas Pariwisata dan Olahraga (Dispora) Sidoarjo, akan dilaksanakan prosesi jamas pusaka yang akan saya pimpin secara langsung,” ungkapnya.

Warih Andono yang menjadi salah satu sosok pendukung utama acara ini menekankan pentingnya sinergi antar komponen dalam pelestarian budaya. “Acara ini adalah hasil kerja sama dari seluruh tokoh budayawan, tokoh adat, dan berbagai elemen masyarakat. Tanpa dukungan bersama, setiap upaya pelestarian akan terpecah dan tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan. Hari ini kita buktikan bahwa kita bisa bersatu tanpa memandang latar belakang masing-masing,” tegasnya.

Menurutnya, hari ini merupakan tahap awal dari rangkaian acara, dan esok hari akan diadakan kirab pusaka yang diharapkan akan lebih meriah dan melibatkan lebih banyak masyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya untuk satu kali saja. Hari ini adalah tahun pertama, dan kedepan kita berkomitmen untuk melaksanakannya secara berkelanjutan. Kita akan terus melakukan diskusi bersama karena dengan niat baik dan keinginan yang sama, segala hal pasti bisa terwujud,” tambah Warih.

Selain menghormati leluhur, Warih juga menyampaikan pesan penting tentang perlunya menjaga alam sekitar. “Kita memiliki dua tugas utama: pertama, menghormati dan mendoakan leluhur; kedua, menjaga alam yang kita tempati. Jika kita tidak sama-sama merawat dan mendoakan, alam tidak akan bersahabat dengan kita,” paparnya.

Baca juga:

Polresta Sidoarjo Gelar Bakti Religi Besihkan Tat lbadah Jelang Hari Bhayangkara

Prosesi Jamas Pusaka yang digelar malam hari juga menjadi bagian krusial dari acara ini. Kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan dan merawat pusaka-pusaka peninggalan leluhur ini terbuka bagi masyarakat yang memiliki pusaka namun tidak mampu merawatnya sendiri.

“Pusaka adalah bagian dari sejarah dan budaya kita yang harus dilestarikan. Melalui jamas pusaka, kita membantu masyarakat untuk merawat warisan berharga tersebut agar tidak hilang atau rusak,” jelas Warih.

Menariknya, seluruh rangkaian acara ini hanya dirumuskan dalam waktu kurang dari satu bulan. “Kita semuanya memiliki keinginan yang sama untuk menjalin silaturahmi dan melestarikan budaya, sehingga dengan cepat kita bisa bergabung dan mewujudkan acara ini,” pungkas Warih Andono sebagai kata penutup. @dieft