Memprihatinkan.. Sampah Sungai di Jumputrejo Terkesan Tiada Habisnya, Warga Minta Pemda Lebih Serius
Kasatmata.id, SIDOARJO | Memprihatinkan, Tumpukan sampah di sungai yang terletak di perempatan jalan raya, Desa Jumputrejo kecamatan. Sukodono kabupaten Sidoarjo, terkesan tiada habisnya dan dinilai kurang mendapat perhatian serius baik dari pemerintah desa ataupun pemerintah daerah.
Baca juga:
Pemkab Sidoarjo Menetapkan Pilkades Serentak 2026 di 80 Desa
Miris pemandangan sampah menutupi aliran sungai menimbun dan bau busuk menyebar di desa Jumputrejo kecamatan Sukodono kabupaten Sidoarjo tepatnya di perempatan jalan membuat pemandangan yang tidak layak diantara para pedagang makanan disekitarnya, dan hal ini telah berlangsung puluhan tahun.
Pada hari Senin 3 November 2025 relawan Banda Raya menjelaskan,” Memang benar kami sempat mau dibayar dari pihak kecamatan tapi kami menolak, karena notabane kami hanya relawan. Intinya kami ingin desa Jumputrejo ini bersih dari sampah” jelas Arik salah satu relawan.
Gunawan menambahkan kekecewaannya, bahwa kehadiran Bandar Raya itu sebenarnya muncul setelah adanya warga dari luar desa yang menyebut perempatan itu dengan sebutan “Kali Sampah”.
“Dari sebutan itu kami warga Jumputrejo merasa malu dan kecewa hingga terbentuklah relawan Bandar Raya. Tujuannya agar warga bisa kolaborasi dengan pemerintah saling membahu membersihkan sungai dari limbah sampah tiada habisnya” ungkap Gunawan.
“Dan kehadiran kami bukan menakuti siapapun tapi murni membantu meringankan serta mempermudah dalam membersihkan sampah sungai ini” ketusnya.
Dari pantauan awak media, pada tanggal 31 Oktober 2025, telah dilakukan normalisasi sungai, namun penumpukan sampah terjadi kembali. Hingga pada tanggal 02 November 2025 dibersihkan kembali. Alangkah mirisnya pada tanggal 03 November pukul 15.09 Wib, sampah-sampah sudah mulai berdatangan kembali.
Sebelumnya Wahyu Jatmiko selaku Sekdes menerangkan permasalahan sampah yang kini menimpa desanya sebenarnya adalah sampah kiriman dari beberapa desa yang sebelumya dan Jumputrejo adalah korban.

“Desa kami ini adalah korban dari desa-desa yang lain perihal sampah, dan sampah ini menumpuk di tempat kami, karena hanya di tempat kami yang terpasang jaring penahan sampah pada saluran irigasi, ditambah warga luar desa kami yang suka buang sampah sembarangan” ungkapnya saat ditemui awak media pada hari Kamis (30/10/2025).
“Kita telah kordinasi dengan 6 pemerintah desa terkait dengan pihak kecamatan untuk mengatur dana untuk pembuangan sampah sungai tersebut. Hingga muncul tenaga relawan Ketawang Rejo yang kemudian berganti nama menjadi Banda Raya dan mereka benar-benar relawan murni tidak mendapatkan upah” imbuhnya.
“Sebenarnya permasalahan tersebut tidak adanya jaring dari desa lain hingga mau tidak mau mengalirnya ke Desa Jumputrejo ini. Untuk pengurus sampah disini juga kebetulan baru tiga bulan ganti, dan di pastikan mulai minggu depan akan rutin dilakukan pembersihan” ujar Miko sapaan akrabnya.
Pihak pemerintah desa Jumputrejo berharap pemerintah daerah bisa lebih tegas dan bisa memberikan ketegasan agar ada solusi terbaik untuk sampah sungai di Jumputrejo.
“Pernah dilakukan normalisasi tapi tidak lama kemudian akan numpuk kembali seperti itu. Kordinasi terakhir diputuskan telah disiapkan tim yang nantinya akan mengambil sampah tiga kali dalam seminggu”urainya.
Baca juga:
Kapolresta Sidoarjo Cek Distribusi MBG di Porong
M. Solikhin mantan Camat kecamatan Sukodono menjelaskan, “Memang setahun sebelumnya saya berusaha mencari solusi, kemudian kerjasama dengan DLHK kabupaten Sidoarjo disediakan truk dengan sopirnya, tapi jika truk ini harus menyisir dari Jogosatru-Jumputrejo kesulitan. Dan untuk mengangkut sampah dari Desa Jogosatru sampai Jumputrejo dengan pemasangan jaring itu kurang efektifnya karena desa kesulitan mencari tenaga angkut sampah ke truk sampah” urai Solikhin saat di konfirmasi melalui telepon selulernya.
Akhirnya ada yang mau sekitar 4-5 kerja secara sip-sipan, yang penting seminggu dua kali diangkut dan berjalan lancar hingga tidak ada keluhan warga. Hingga muncul relawan yang tidak mau dibayar, maka tenaga kerja berhenti karena alasan tidak berani. Setelah 3-4 bulan itu sudah tidak adalagi tenaga yang mau bekerja” sampainya
“Seandainya para relawan ini mau dibayar maka kita tidak memperkerjakan tenaga lain, karena tidak mau dibayar itu susah kita pertanggungjawaban nya” ujar Solikhin
“Untuk Jogosatru saat ini memang sudah ada jaring penahan tapi bagaimana dengan Desa yang lain, seperti Desa Suruh, Pademonegoro, Pekarungan, Cangkring agar lebih jelas dan transparan terkait sampah sungai di desa Jumputrejo tersebut” tutup Solikhin yang sekarang duduk di Inspektorat kabupaten Sidoarjo. @slik












