Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Pangan Nasional
TUBAN, kasatmata.id | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah fondasi utama bagi keamanan dan keberlangsungan negara, sekaligus terus memperkuat upaya kemandirian sektor ini melalui berbagai langkah strategis. Hal ini disampaikan saat Presiden melakukan groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya produksi pangan yang aman, lancar, dan berkesinambungan. “Tidak mungkin suatu negara bertahan survive tanpa produksi pangan yang lancar, yang aman, yang berkesinambungan,” ujarnya.
Kepala Negara juga menyatakan bahwa pangan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga menyangkut pertahanan negara, sebagaimana pengalamannya semasa menjadi komandan pasukan tempur yang memahami hubungan antara ketersediaan pangan dengan kelangsungan operasional pasukan.
Baca juga:
Danrem Pimpin Upacara 17-an, Tekankan Disiplin dan Soliditas
Presiden juga mengapresiasi berbagai inovasi di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah krisis global. Salah satunya adalah pemanfaatan tongkol jagung menjadi briket arang, yang sebelumnya hanya dibuang. “Dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi sekarang saya dikasih tahu, ‘Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.’ Waduh, luar biasa,” ucapnya dengan penuh kagum. Selain itu, ia juga menyoroti pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor.
“Inovasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan tidak mudah menyerah,” ujar Presiden, yang menambahkan bahwa produk inovatif tersebut akan didistribusikan secara luas melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dengan harga terjangkau untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Menanggapi capaian tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa agenda di Tuban merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional. Setelah berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 2025, pemerintah kini fokus memperkuat produksi jagung dan komoditas strategis lainnya. “Kita sekarang mengejar untuk juga swasembada di bidang jagung dan seluruh komoditas pangan lainnya,” katanya.
Menteri Pras juga mengungkapkan bahwa cadangan beras pemerintah di gudang Bulog telah mencapai 5,3 juta ton, sebuah pencapaian bersejarah yang menunjukkan kondisi pangan nasional yang aman dan terkendali. “Kita ingin memastikan bahwa pangan kita aman, terkendali, harga juga terjangkau bahkan bisa memberi bantuan kepada negara lain,” tambahnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petani Indonesia atas kontribusi mereka dalam menjaga ketersediaan pangan.
Baca juga:
PLN Siaga Penuh Dukung Kunjungan Kerja Presiden di Jatim
Senada dengan itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat dukungan sektor pertanian, termasuk memastikan ketersediaan pupuk. Stok pupuk nasional saat ini lebih dari cukup, bahkan Indonesia telah mulai mengekspor ke negara seperti Australia, Filipina, Brasil, dan India. “Ini kehebatan Bapak Presiden, gagasan besar beliau kita laksanakan dengan baik,” ujarnya.
Menteri Amran menambahkan bahwa selain swasembada beras, Indonesia juga telah mencapai swasembada jagung untuk kebutuhan pakan. Harga pupuk dalam negeri juga mengalami penurunan hingga 20 persen, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani.
Presiden Prabowo juga mengenang peran penting petani dan nelayan sebagai produsen pangan bagi bangsa, serta dukungan mereka selama masa perjuangan kemerdekaan. Ia menekankan bahwa keberhasilan ketahanan pangan membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa.
“Setiap mereka yang ingin melihat negara dan bangsa kita langgeng, harus fokus dan memperhatikan masalah pangan ini,” tandasnya. @dieft












