Di Era Digital, Kompas Moral Butuh Arah Baru
Sidoarjo, kasatmata.id | Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam ketika angin malam menyapu lembut Pendopo Rembuk Sworo di Sidokerto, Kecamatan Buduran. Dinding anyaman bambu dan suasana sunyi menyambut kedatangan dua tokoh lokal yang siap mengurai persoalan sosial yang tengah mengguncang generasi muda.
Pada Sabtu, 8 Juni 2026, pukul 22:20 WIB, tempat yang kerap jadi lokasi berkumpulnya pemikir dan budayawan ini menyaksikan dialog mendalam antara Romo Tawar, pegiat kesenian Ludruk Bintang Timur dan Gus Arief, tokoh muda dari Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji.
Di atas meja putih yang dihiasi kacamata hitam, kunci, dan asbak naga unik, aroma kopi hitam pekat berbaur dengan kepulan asap rokok. Romo Tawar, yang rambutnya mulai memutih dan dikenal sebagai penata panggung yang berpengalaman, menyampaikan kekhawatiran mendalam tentang pergeseran nilai-nilai sosial di tengah derasnya arus teknologi. Bagi dia, panggung ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan madrasah kultural yang secara halus menyampaikan tuntunan moral dan tata krama Jawa kepada penonton melalui lakon kehidupan sehari-hari.
Baca juga:
HIV/AIDS di Indonesia: Silent Epidemic yang Ancam Bonus Demografi
“Dulu, Gus, anak muda lewat di depan orang tua pasti membungkuk, ada rasa pekewuh [hormat yang tulus],” ujar Romo Tawar sambil menghela napas panjang.
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi ludruk, pesan moral selalu menekankan bahwa kepintaran tanpa landasan etika akan berujung pada kehancuran. Namun kini, di era digital dan media sosial, batasan antara sopan dan tidak sopan seringkali kabur demi mengejar popularitas konten, seolah-olah adab telah digantikan oleh jumlah pengikut dan tanda suka di layar gawai.
Di hadapannya, Gus Arief tampil santai dengan kaos cokelat muda, menyatu dengan wibawa khas pesantren yang telah berdiri sejak lama. Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah dikenal sebagai mercusuar ilmu agama dan akhlak di Sidoarjo, di mana nilai-nilai luhur ditempa melalui kitab suci dan keteladanan para ulama. Ia mengangguk setuju dan memberikan perspektif religius terkait permasalahan tersebut.
“Di pesantren, kita pegang kaidah al-adabu fauqal ‘ilmi – adab berada di atas ilmu,” jelas Gus Arief. Ia menyayangkan bahwa kemajuan teknologi informasi yang pesat belum diimbangi dengan penguatan filter spiritual, sehingga banyak orang yang cerdas secara digital namun mengalami penurunan kualitas akhlak dalam kehidupan nyata.
Kedua tokoh ini menemukan titik temu ketika membahas bagaimana algoritma internet seringkali memanjakan ego manusia. Romo Tawar menyoroti bagaimana anak muda kini mudah mencaci atau memberikan komentar yang tidak bertanggung jawab di media sosial, sesuatu yang sangat tabu dalam filosofi ketimuran yang mengedepankan rasa hormat dan empati. Sementara itu, Gus Arief melihat fenomena tersebut sebagai akibat hilangnya prinsip tabayun (konfirmasi informasi) dan terkikisnya rasa takut akan konsekuensi dari ucapan yang tidak bijak.
“Sekarang, banyak orang berkomentar sembarangan hanya dengan menggerakkan jempol,” tambah Gus Arief dengan nada khawatir.
Meskipun mengakui bahwa teknologi membawa banyak manfaat, keduanya sepakat bahwa teknologi tidak boleh dimusuhi, melainkan harus dikendalikan dengan bijaksana. Romo Tawar berencana menyelipkan pesan literasi digital melalui adegan dan banyolan (hiburan lucu) dalam pertunjukan ludruknya, agar pesan moral bisa sampai kepada khalayak luas dengan cara yang mudah diterima. Sementara itu, Gus Arief akan memperkuat pembelajaran akhlak di pesantren dengan menambahkan materi tentang etika berinteraksi di dunia maya.
Baca juga:
Pemkab Sidoarjo Perkuat Penanganan Sampah dari Hulu ke Hilir
Tak berhenti pada wacana saja, mereka sepakat untuk membuat program podcast khusus yang akan diproduksi langsung dari Pendopo Rembuk Sworo. Tujuan podcast ini adalah untuk merangkul generasi milenial dan Gen Z dengan bahasa yang sesuai serta konten yang relevan dengan kehidupan mereka.
Ketika jam menunjukkan tengah malam, perbincangan hangat itu pun harus diakhiri. Selain upaya mandiri mereka, kedua narasumber juga menaruh harapan pada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo agar dapat membuat kebijakan atau program konkret. Beberapa hal yang diusulkan antara lain penguatan kurikulum karakter lokal di sekolah-sekolah dan pembentukan ruang kreasi digital yang sehat untuk anak muda.
“Saya berharap kita tidak hanya berbicara, tapi juga bergerak bersama untuk menjaga kompas moral bangsa,” ucap Romo Tawar sambil merapikan baju sebelum meninggalkan pendopo yang mulai kembali sunyi. Gus Arief menyambutnya dengan senyuman, bersiap untuk menyampaikan kegelisahan dan solusi tersebut kepada lebih banyak orang melalui podcast yang akan segera diluncurkan. @dieft












