Data Penanganan HIV/AIDS Sidoarjo Terungkap, Dinkes Tegaskan Komitmen “Temukan, Obati, Pertahankan”

Foto: ilustrasi

Data Penanganan HIV/AIDS Sidoarjo Terungkap, Dinkes Tegaskan Komitmen “Temukan, Obati, Pertahankan”

SIDOARJO, kasatmata.id |  Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo merilis pemetaan lengkap penanganan kasus HIV/AIDS berdasarkan kelompok usia, hasil kolaborasi pemeriksaan masif bersama Yayasan Delta Crisis Center (DCC). Data ini menjadi dasar penguatan strategi penanganan, pencegahan, dan edukasi guna menekan penyebaran serta meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di wilayah tersebut.

Paparan data penanganan dan arah kebijakan disampaikan usai pertemuan koordinasi yang digelar di lingkungan Sekretariat Daerah Sidoarjo, Rabu (22/7/2026). Sekretaris Daerah Dr. Fenny Apridawati, S.H., M.M., menyambut baik kerja sama lintas pihak tersebut dan menegaskan tiga pilar utama penanganan: “Temukan, Obati, Pertahankan”.

Baca juga:

Curhat Kamtibmas di Tanggulangin, Polresta Sidoarjo Bangun Komunikasi Terbuka

“Deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan adalah kunci. Semakin cepat ditemukan, semakin optimal penanganannya dan semakin kecil risiko penularan serta dampak buruk bagi kesehatan,” ujar Fenny.

Kepala Dinas Kesehatan dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., merinci data kumulatif penemuan kasus periode 2021 hingga 21 Juli 2026 sebagai berikut:

– Usia 0–10 tahun: 117 kasus, 35 meninggal dunia, 50 lepas pantau (Loss to Follow-Up), dan 32 rutin menjalani terapi Antiretroviral (ARV)
– Usia 11–17 tahun: 60 kasus, 7 meninggal dunia; saat ini tersisa 53 kasus aktif pada kelompok pelajar
– Usia 18–24 tahun: 1.006 kasus, 123 meninggal dunia
– Usia di atas 25 tahun: 6.047 kasus, 1.543 meninggal dunia

Dijelaskan lebih lanjut, penularan pada kelompok anak usia 0–10 tahun mayoritas terjadi melalui transmisi vertikal dari ibu ke anak saat kehamilan, persalinan, atau menyusui. Untuk mencegah hal tersebut, Dinkes memberikan dukungan nutrisi khusus berupa susu formula bagi bayi yang lahir dari ibu positif HIV namun hasil tesnya negatif, agar tidak tertular melalui ASI. Sementara pada kelompok usia produktif, penularan terbanyak tercatat pada populasi Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).

“Pada kelompok anak, penularan lewat transfusi darah atau faktor lain sangat kecil. Paling dominan dari ibu ke anak. Itulah sebabnya pendampingan ibu hamil dan pemeriksaan rutin sangat krusial,” tegas Lakhsmie.

Ia mengingatkan pentingnya kedisiplinan konsumsi obat ARV. Meski kondisi tubuh sudah terasa sehat, penghentian pengobatan dapat memicu kembali perkembangan virus dan meningkatkan risiko penularan. “Jika virus dalam tubuh sudah tak terdeteksi, risiko menularkan sangat kecil. Namun obat tetap harus diminum sesuai aturan agar kondisi itu terjaga,” tambahnya.

Dinkes juga mencatat sekitar 1.200 kasus baru terdeteksi dalam kurun waktu tersebut, dengan dominasi pada usia produktif. Untuk memutus rantai penularan, pemerintah daerah menargetkan pelaksanaan pemeriksaan saringan di 30 titik rawan pada semester kedua tahun ini, sehingga total mencapai 60 titik dalam satu tahun.

Baca juga;

Danrem Bhaskara Jaya Dukung Pembangunan Jembatan Garuda

Langkah pencegahan yang disosialisasikan meliputi menghindari perilaku seksual berisiko, mewaspadai penularan lewat cairan tubuh, serta tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian. Masyarakat juga diimbau menjaga pola hidup sehat dan pergaulan yang aman, sekaligus mengikis stigma negatif agar ODHIV berani datang berobat dan tidak terisolasi.

“Kami tidak hanya mengobati penyakitnya, tapi juga mendampingi secara psikologis dan sosial. Semua pihak harus berperan: pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi mitra, hingga masyarakat luas, agar penanganan HIV/AIDS di Sidoarjo semakin tepat sasaran dan berdampak nyata,” pungkas Lakhsmie. @dieft